Padewakang: Perahu Favorit Pedagan Rempah Nusantara

13 October 2017
Padewakang: Perahu Favorit Pedagan Rempah Nusantara


Salah satu kekayaan Nusantara yang kini dipamerkan dalam acara Europalia 2017 di Belgia adalah perahu padewakang. Dibandingkan dengan perahu pinisi, padewakang kurang dikenal, bahkan oleh masyarakat Indonesia. Padahal dari segi “lama digunakan”, padewakang jauh lebih lama: pinisi baru digunakan kurang 150 tahun terakhir,  sedangkan padewakang, berdasarkan fresko pada Candi Borobudur, sudah dikenal sejak 1000 tahun lalu. Itulah sebabnya, kurator memutuskan untuk memilih padewakang daripada pinisi. Pertimbangan teknis, jika dibuat dalam skala asli, padewakang jauh lebih memungkinkan daripada pinisi. Ukuran pinisi lebih besar sehingga lebih repot dan lama untuk memasang dan membongkarnya kembali. Minimal panjang pinisi 15 meter, tinggi layar juga begitu, ukuran yang bakal tidak akan muat untuk museum yang tingginya hanya tujuh meter.

Perahu Jarak Jauh Favorit
Perahu padewakang banyak digunakan oleh pelaut-pelaut Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Mandar) untuk pelayaran jarak jauh. Konon jenis padewakang-lah yang mendominasi armada dagang jarak jauh yang digunakan pelayar-pelayar Nusantara, khususnya dari Makassar dan Mandar dalam perdagangan rempah-rempah. Dari Ternate dan Tidore (serta pulau-pulau sekitarnya yang menghasilkan rempah) ke Nusantara bagian barat, misal Tumasik (Singapura), Malaka, dan Padang, serta ke utara, Sulu (Filipina).
Dugaan ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Horst H. Liebner, seorang peneliti kebudayaan maritim Indonesia asal Jerman. Menurut Liebner, “Perahu padewakang melayari seluruh Samudra Indonesia, antara Irian Jaya dan Semenanjung Malaya, dan sekurang-kurangnya sejak abad ke-19 secara rutin berlayar  sampai ke Australia untuk mencari tripang. Bahkan, dalam suatu buku dari abad silam, digambarkan sebuah perahu padewakang yang diberi label "perahu bajak laut asal Sulawesi di Teluk Persia".”
Umumnya perahu ini dimiliki oleh pedagang Mandar, Makassar, dan Bugis.  Bentuk fisik perahu padewakang, kembali menurut Liebner, memenuhi karakteristik perahu Nusantara yang berkembang sejak masa kolonial: sebuah lambung yang—menurut standar Eropa—berukuran sedang dan dilengkapi dengan satu sampai dua geladak, kemudi samping, dan layar jenis tanjaq yang dipasang pada sebatang tiang tripod tanpa laberang.
Perahu padewakang dibuat dengan teknik menyusun papan; teknik yang sama dengan yang digunakan untuk membuat baqgo, lete, palari, dan pinisi. Di tengah dipasang balok lunas lalu di kedua sisinya ditambah papan yang disebut “papang tobo”, berjumlah tujuh, sembilan, sebelas, dan seterusnya. Makin besar perahu makin banyak “papang-nya”. Beda padewakang dengan sandeq atau pakur, keduanya terbuat dari kayu yang dikeruk di tengah lalu ditambahi papan di kedua sisinya.  Paling banyak dua atau tiga papan.

Lebih mahal daripada sutera
Yang khas pada perahu padewakang adalah bentuk layarnya, yakni layar segi empat yang oleh orang Mandar disebut “sombal tanjaq”.  Bentuk ini tergambar jelas pada relief Candi Borobudur. Konon, disebut “tanjaq” karena jika tertiup angin, bagian bawah layar (peloang) berbentuk seperti orang yang “mattanjaq” atau menendang. Cara memasangnya pun ternyata juga begitu: orang memanjat tiang layar.  Saya pernah melihat teknik demikian waktu perahu pakur Mandar berlayar ke Jepang pada 2009.
Khas layar Austronesia, layar padewakang terbuat dari serat daun lanu muda. Daun dikeringkan, lalu bagian atau lapisan yang keras dan tak mudah putus diambil dan  diurai menjadi helai-helai pita selebar 2 milimeter. Helai kecil itu diuntai sambung-menyambung sampai ratusan meter. Pita-pita inilah yang ditenun, layaknya menenun sutera. Hanya saja untuk menenun karoroq tidak menggunakan suruq.

Diberi nama “Hati Marege”, ini adalah perahu padewakang terakhir yang pernah dibuat, yaitu pada 1987, untuk ekspedisi ke Darwin, Australia. Perahu ini juga dibuat di Tana Beru oleh H. Jafar dan keluarga, pembuat perahu yang saat ini  dipamerkan di Belgia. Guna merakit perahu padewakang ini, yang berukuran sekitar 12 meter, dengan lebar tiga meter dan tinggi lebih dua meter, tukang yang membuat perahu padewakang ikut serta dalam rombongan yang berangkat menghadiri Europalia 2017. Mereka adalah Muhammad Ali Jafar, Muhammad Usman Jafar, Bahri, dan Budi. Saya dan Horst Liebner turut mendampingi. Europalia adalah festival seni dan budaya tahunan yang diselenggarakan di beberapa negara di Eropa. Pada tahun 2017 ini, Indonesia hadir sebagai tamu kehormatan.

Proses untuk mempersiapkan bahan layar membutuhkan waktu lebih dari sepekan. Untuk menenun butuh waktu empat hari. Setiap lembar rata-rata lima meter panjangnya dan lebar 70 cm.  Lembar-lembar ini dijahit antar-sisinya menggunakan “pappas” (juga lanu). Tepian diperkuat menggunakan “randang bulu” atau tali ijuk. Semua proses pembuatan ini dilakukan di Mandar, kerja sama antara wanita Kampung Lanu di Campalagiang dan nelayan di Pambusuang.
Untuk perahu padewakang yang dipamerkan dalam Europalia 2017 ini, dibuat dua helai layar. Layar haluan berukuran 7 x 5 meter  dan buritan 5 x 3 meter. Layar biasanya akan tahan untuk melaut selama 2–3 bulan. Dalam setiap pelayaran, pelaut membawa banyak cadangan karoroq. Dulu, sebelum tahun 1970-an, karoroq sangat laku di Mandar. Selain digunakan sebagai layar, juga sebagai kelambu, tikar untuk menjemur padi. Ketika muncul karoroq plastik yang murah, karoroq daun ditinggalkan. Bisa dikatakan, saat ini karoroq daun sudah punah. Lembaran karoroq baru diproduksi kalau ada yang pesan. Untuk kegiatan pameran di Belgia ini dibutuhkan 15 lembar karoroq. Satu lembar harganya Rp 400.000. Mahal? Ya, lebih mahal daripada sutera.