Merayakan Jadul

18 October 2017
Merayakan Jadul


Berangkat dari kecintaan kepada musik-musik jadul era 1960-an, sebuah grup musik indie alternatif rock n roll terbentuk di Jakarta pada 2011. Empat sekawan dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ) yang terdiri dari Japra Shadiq (vokal/harmonika), Andre Kubil Idris (gitar), Jacobus Dimas (bass) dan Tika Pramesti (drum) bergabung dalam Indische Party. Nama band yang tidak kalah jadul dari lagu-lagu yang mereka mainkan. 

“Kami semua seangkatan di IKJ, kecuali Kubil,” celetuk Japra ketika ditemui di lantai dua Pavilliun 28, Petogogan, Pulo, Jakarta Selatan, sebelum pentas pada Senin, 9 Oktober 2017. 

Malam itu, Japra mengenakan kaus bergaris hitam dan putih dibalut jaket biru berbahan jins. Rambut Japra tak lagi bob sepundak seperti kemunculannya di album pertama Indische Party, Self Titled. Kini rambutnya lebih pendek dan ikal. Sementara penampilan teman-temannya masih sama. Kobus dengan rambut keritingnya yang megar, Tika berambut lurus klimis sebahu dengan poni rata di atas alis, dan Kubil rambutnya lurus memanjang sebahu. 

Wawancara ini tak ubahnya nostalgia. Jauh sebelum menjadi Indische Party, kuartet muda pembangkit musik vintage tersebut sudah punya band masing-masing. Japra si vokalis flamboyan, dulunya tergabung dalam band It’s Different Class. Kubil Idris sejak 2002 sudah malang melintang bersama The Upstairs. Sementara Jacobus yang akrab disapa Kobus, telah lebih dulu bermain di bawah naungan Karon n Roll. 

Menurut penuturan Japra, kala itu band mereka sudah tidak begitu aktif lagi. Walau begitu, semangat bermusik masih menggebu-gebu di dada keempatnya. Lewat bincang-bincang dan main musik bareng, akhirnya Japra, Kubil, Kobus, dan Tika pun sepakat untuk membuat grup band baru. 

“Waktu itu Kubil lagi menggilai zaman Hindia Belanda. Kami banyak diskusi soal VOC, hingga tercetuslah bikin band dengan nama yang kental perjuangan di era itu, Indische Partij,” ujar Japra. Kata Partij yang berarti partai dalam bahasa Belanda, dinilai terlalu serius. Lagipula band ini bukan ditujukan untuk jadi mesin politik. Alhasil, kata Partij itu diubah menjadi Party, yang dalam bahasa Inggris punya dua arti. Pertama, sama seperti bahasa Belandanya, partai. Kedua, bisa diartikan sebagai pesta. Japra cs mengadopsi arti kedua.

“Biar temanya lebih ringan saja. Pesta kan bisa buat senang-senang, melantunkan lagu cinta-cinta, groovy,” terang vokalis berdarah Arab tersebut. 

Album pertama Indische Party rilis pada Juni 2013. Saat itu, kata Japra, yang terpikirkan adalah, ingin punya rekaman dulu. Setelah punya karya, baru cari panggung. Japra dan Kubil pun bercengkerama dan melahirkan lagu pertama mereka, “Waiting for You”. Lagu ini menarik minat perusahaan rekaman anti-mainstream, Demajors Independent Music Industry (DIMI). Begitulah “Waiting for You” menjadi single album perdana Indische Party, bersama dua single lainnya, “Hey Girl” dan “Sepeda”. 

Selama dua tahun selanjutnya, Indische Party menghabiskan waktu dengan aktif wara-wiri di kelab, kafe dan acara komunitas, serta kampus-kampus se-ibu kota guna menyapa para gigs pecinta physchedelic pop. Sembari manggung, Japra cs terus mendalami, bereksperimen, dan menggali potensi permainan musik mereka. Hingga tawaran tak terduga datang menghampiri mereka.