Jalinan Komposisi Tak Terduga

27 December 2017
Jalinan Komposisi Tak Terduga


 Lea Pamungkas

Amsterdam-EUROPALIA. “Betulkah ini berdasar pada sebuah komposisi ? Dan bukan improvisasi?”, demikian celetuk salah seorang penonton yang duduk di belakang saya ketika Svara Samsara tengah beraksi di pentas Podium Mozaik Amsterdam. Energik, dinamis, tidak terduga, dan eksplosif. Kelima anggota Svara Samsara membuat penonton duduk tetapi ikut bergerak bersama suara yang muncul dari satu perkusi ke perkusi lainnya.

Ini adalah penampilan ketujuh dari Pele, Kate, Ronal, Agay, dan Tommy dalam Europalia Arts Festival Indonesia 2017. Halnya pertunjukan mereka di kota-kota lain: Bierbeek, Deventer dan Den Haag, penampilan mereka mendapat sambutan yang hangat dan meriah dari penontonnya.

“Luar biasa. Ini pertunjukan terakhir. Dan saya sangat bangga dengan kerja keras para anggota Svara Samsara ini. Sangat mengesankan,” demikian cetus Arjan Onderwijngaard, salah seorang pengurus Rumah Kahanan , studio Svara Samsara. Arjan yang berasal dari Tilburg, selama ini dikenal sebagai salah seorang penggerak kesenian di Belanda.

Menurut keterangan Arjan, penonton minggu malam ini (10/12) tidak sebanyak pertunjukan mereka sebelumnya. Sejak dua hari sebelumnya, seluruh wilayah Belanda dilanda badai salju. Dan hari ini ramalan cuaca memperingatkan kode oranye lewat radio dan televisi.

Hampir seluruh jaringan transportasi antar kota seperti bus dan kereta, berhenti total. Jalanan licin, dan beresiko tinggi mengalami kecelakaan. Yang tinggal hanya trem di dalam kota. Artinya, jika tidak terlalu penting, lebih baik berselimut di dalam rumah.

“Menggetarkan,” cetus Anne-Ruth Werheim (80) yang malam itu datang dengan pasangannya Rudi. Pasangan ini dengan sengaja menyewa taksi khusus pelayanan kaum manula ke tempat ini. “Kami datang karena sudah lama tidak bertemu dengan Arjan, manajer Svara Samsara,” tambah Rudi sambil meletakkan tongkatnya.

“Tapi pertunjukan malam ini sungguh-sungguh membuka cakrawala lain bagi kami yang sudah di atas usia 80-an ini,” kata Anne-Ruth lagi. Pasangan ini tampak penasaran dengan pelbagai instrumen musik yang dimainkan Svara Samsara. “Kadang-kadang saya tak bisa lagi menangkap instrumen apa yang tengah dimainkan, kecepatan mereka beralih dari satu alat musik ke alat musik lain sangat luar biasa”
Dengan konsep “Tradisi tetapi tidak tradisional” , Svara Samsara terus menggebrak puluhan penonton selama satu setengah jam. Komposisi mereka yang menggunakan pelbagai instrumen musik Indonesia, antara lain taganing, semacam drum dari Batak, Kendang Sunda, Rebana Hadrah, Jidor dan Gong Jawa, Kancil, Rindik –gamelan bambu dari Bali, talempong, idiofoon logam dari Minangkabau, pelbagai instrument musik tiup langka seperti serunai dan saluang; sungguh menyajikan kekayaan suara yang tiada henti.

Komposisi yang lahir dari perkusi, alat tiup, vokal dan gerak tubuh Svara Samsara, menciptakan karakter musik yang luar biasa unik. “Seharusnya apa yang dikerjakan mereka mampu menginspirasi musik Barat yang terlalu berorientasi pada musik pop,” demikian Hannah Randt (26), mahasiswa Conservatorium van Amsterdam. “Bahwa sesuatu yang tradisional mampu membawakan nafas yang samasekali baru”
“Tambah lagi,” katanya dengan antusias. “Mustinya penonton boleh mendekat ke panggung. Musik mereka juga sangat tepat untuk bergoyang. Saya berharap mereka suatu saat bisa berpentas di Paradiso (tempat pertunjukan terkenal di Amsterdam,pen). Sehingga kami bisa lebih larut, dan tidak hanya duduk sambil gatal”

De Theelichje
Podium Mozaik di sebelah Barat kota Amsterdam, tempat Svara Samsara melakukan salah satu debutnya di Eropa, selama ini dikenal sebagai tempat pertunjukan yang multikultural. Di sela warung kebab dan durum –makanan khas orang Turki dan Maroko, gedung dengan kubah bulat serupa masjid; menjadi tempat alternatif bagi kota Amsterdam.

Bangunan gereja yang dibangun tahun 1954 ini, awalnya bernama De Pnielkerk. Penduduk setempat yang umumnya adalah kaum migran Turki dan Maroko menyebutnya dengan Het Theelichtje, Cahaya Kecil (tempat minum) Teh. Sesuai dengan tradisi minum teh yang ada dalam lingkungan mereka. De Pnielkerk dibangun dengan banyak unsur keramik, hingga akhirnya berbentuk mozaik.

Karena kekurangan biaya pemeliharaan, gereja ini kemudian dijual. Dan sempat menjadi tempat praktik para dokter sampai tahun 2002. Setelahnya oleh pihak pemerintah daerah dimasukan sebagai salah satu bangunan monumen yang harus dilestarikan.

Baru tahun 2005, atas inisiatif penduduk setempat tempat ini kembali dihidupkan. Awalnya diperuntukan bagi penduduk sekitarnya, dan sekolah-sekolah yang membutuhkan tempat berlatih atau melakukan pertunjukan. Dan kini menjadi salah satu tempat pertunjukan dengan aura Mediterania.

Kelima personil Svara Samsara saat ditemui sebelum pertunjukan, mengaku sangat gembira dengan perjalanan Europalia ini. “Ini sungguh pengalaman yang sangat berharga,” sambut Pele dengan wajah berseri-seri. “Saya demikian terkesan dengan sambutan hangat penonton”.

“Betul,” tambah Tommy yang baru saja bergabung dengan Svara Samsara dua bulan sebelum keberangkatan mereka ke Europalia. “Saya demikian berterima kasih mendapatkan pengalaman ini”
Svara Samsara dengan studionya Rumah Kahanan di Depok, didirikan pada tahun 2015 dan terinspirasi pada hidup dan karya salah seorang pemain perkusi kenamaan Indonesia, almarhum Innisisri (1951 – 2009). Seluruh komposisi musik mereka, digarap secara individual ataupun bersama-sama. Album pertama mereka, “Svara Samsara” yang dirilis pada tahun 2016, mendapatkan bintang empat dari James Cathpole, pengamat musik kenamaan Inggris dalam majalah “Songline Magazine”.