Dedikasi Untuk Gentayangan Di Europalia

27 December 2017
Dedikasi Untuk Gentayangan Di Europalia


Oleh : Asmayani Kusrini

Suatu pagi yang bersalju, saya menerima surat elektronik yang cukup mengejutkan dari tetangga beda lantai apartemen di Brussels. Dia mengajak bertemu di Bozar, gedung seni budaya multifungsi, tempatnya bekerja sebagai musisi tetap. Tetangga yang jarang bertegur sapa itu adalah musisi asal Bulgaria yang menetap di Brussels. Sesekali kami tidak sengaja bertemu di tangga atau di pintu keluar gedung apartemen, atau bertemu di pertemuan tahunan rutin para pemilik apartemen untuk membicarakan hal-hal teknis menyangkut perawatan gedung. Pertemuan singkat dan cukup untuk tahu dan saling bertukar informasi dasar semisal nama dan asal negara.  

Saat bertemu, dia bercerita, suatu kali saat sedang rehat latihan untuk sebuah konser, dia menyempatkan diri untuk menyaksikan pameran Power and Other Things di gedung yang sama. Dengan semangat dia bercerita bagaimana ia kemudian merekomendasikan pameran tersebut ke kolega-koleganya sesama musisi, juga kepada istrinya yang orang Jepang, dan kepada kolega-kolega istrinya, komunitas Jepang di Brussels.  

Tapi ada satu karya yang membuatnya ingin bertemu saya. Judulnya : Gentayangan. Melalui karya itu, dia sadar betapa sedikitnya dia tahu tentang apa yang terjadi di belahan dunia lain. Sebagai orang Bulgaria yang besar dan tumbuh dalam rezim komunis, dia terkejut dengan perbedaan yang mencolok antara komunisme di negaranya dengan komunisme di Indonesia.

Dia mengaku banyak merenung sejak melihat Gentayangan. Karya itu mengingatkannya pada sejumlah kebencian yang mengakar dalam keluarganya. Penyebab yang membuat mereka meninggalkan Bulgaria. Betapa kebenciannya (atau lebih tepatnya, kebencian orang tuanya) terhadap rezim komunis membuatnya merasa tidak pernah menjadikan Bulgaria sebagai tempat ideal untuk hari tua.  Dia tahu, dialektika kekuasaan, penindas dan tertindas, tidak melulu soal ideologi. Tapi baru kali ini dia tergugah untuk memikirkannya lebih jauh. 

Tanggapan dari tetangga saya itu menyadarkan betapa sedikitnya karya-karya seni tentang tragedi 65-66 yang sampai ke publik Eropa. Peristiwa genosida komunis sepanjang periode 1965-66 memang sudah banyak dan masih terus dieksplorasi terutama sejak euforia pelurusan sejarah pasca 1998 yang ditandai dengan jatuhnya rejim orde baru. Representasi, analisa, reka ulang peristiwa kelam itu sudah banyak dituangkan dalam buku-buku, baik fiksi maupun non-fiksi.

Sejumlah film, langsung maupun tidak langsung, berhubungan dengan periode tersebut makin mendapat perhatian khususnya sejak Joshua Oppenheimer membedah dan mengautopsi jantung sejarah hitam yang selalu disangkal itu  dalam dua karya dokumenternya, Jagal dan Senyap.

Pendekatan Oppenheimer terhadap objek –yang merasa menjadi subjek— berkat manipulasi yang cukup persuasif itu  mendobrak konsensus[1] di antara film-film karya sutradara Indonesia dengan tema yang sama.  Selain representasi dalam film, peristiwa 65 juga banyak diolah oleh seniman dan menghasilkan  berbagai karya seni macam rupa, mulai dari pentas boneka, teater, patung, lukisan hingga karya instalasi multibentuk.

Sayangnya, di Eropa, khususnya di Belgia yang menjadi tuan rumah pesta seni budaya dua tahunan Europalia, tragedi kemanusiaan  65-66 itu nyaris tidak masuk radar pengetahuan umum.

Jagal dan Senyap yang sudah diputar beberapa kali di Brussels, baik di festival film dokumenter maupun di pemutaran-pemutaran berskala kecil, menjadi semacam perkenalan terhadap sisi gelap Indonesia yang gaungnya berkisar di pusaran para pencinta film dokumenter. Sebuah karya instalasi foto dan video berjudul (De/Re)Construction oleh Elisabeth Ida Mulyani, seniman asal Indonesia lulusan Sekolah Tinggi Seni di Ghent juga pernah ditampilkan di Pusat Budaya Strombeek (CC Strombeek) beberapa tahun lalu.

Selebihnya, narasi 65-66 tertutupi dengan timbunan narasi-narasi tentang Indonesia sebagai surga tropis nan eksotis. Maka ketika Europalia Indonesia menampilkan Gentayangan dalam konteks pameran Power and Other Things (POT), gaungnya jadi lebih luas melampaui kotak-kotak komunitas film maupun seni yang banyak terbentuk di Brussels.

Tidak sedikit masyarakat umum, baik itu penduduk Brussels maupun mereka yang datang dari berbagai pelosok negeri dan negara-negara tetangga, menyaksikan pameran seni kontemporer Indonesia yang belum pernah diselenggarakan sebelumnya.

Komentar, tanggapan, dan rasa penasaran tercipta khususnya untuk Gentayangan tidak hanya dari segi artistik namun juga dari konteks sejarah yang melatarbelakangi karya seniman asal Jogja itu.  Melalui Europalia yang merupakan pesta budaya yang dibiayai pemerintah, secara tidak langsung juga menunjukkan bahwa Indonesia sebagai institusi negara mulai terbuka untuk masuk dalam dialog universal tentang isu-isu kemanusiaan yang masih sulit dibicarakan dalam negeri. Percakapan dengan tetangga membuat saya kembali membeli tiket, khusus untuk melihat lagi karya Agung Kurniawan.

PANGGUNG UNTUK PARA HANTU

“Mereka masih hidup atau sudah mati ?”

Pertanyaan itu terlontar lalu menggaung, memantul, berulang, di antara narasi-narasi dan dialog yang kadang terdengar lantang, kadang lirih, kadang berupa bisikan-bisikan. Dalam ruangan seperti bunker yang tersembunyi di bawah tangga di salah satu sudut sayap gedung Bozar, di Brussels itu, Gentayangan karya Agung Kurniawan menciptakan gema yang membuat bulu kuduk berdiri.

Sejak dari ujung tangga, karya instalasi yang sengaja diletakkan di salah satu ruang khusus yang jarang digunakan itu mengarahkan pengunjung untuk turun ke bawah. Sisi-sisi tangga sudah dihiasi dengan sapu tangan bergambar foto-foto perempuan tua lengkap dengan nama-nama mereka. Gaung suara-suara percakapan terdengar dan makin bergema ketika pengunjung sampai di ruangan bawah, sebuah area setengah lingkaran di mana sejumlah kostum putih tegak tergantung berjejer mengikuti bentuk ruangan.

Dilihat dari segi komposisi, area kosong di tengah lingkaran itu sebetulnya memposisikan pengunjung sebagai pusat. Namun desis suara elektronik ditimpali percakapan-percakapan dari perempuan-perempuan yang “mengisi” kostum-kostum putih menggantung itu menciptakan situasi yang cukup absurd bagi pengunjung. Siapapun yang berdiri dan tinggal cukup lama di tengah lingkaran itu lambat laun akan merasa seperti sedang dihakimi, diadili, dimintai pertanggung jawaban.

Tanpa mengerti bahasa yang digunakan pun, mereka yang berada di pusat itu akan merasakan ketidak nyamanan karena perempuan-perempuan itu seperti sedang menuntut sesuatu. Sejenak, pengunjung seperti diajak menempatkan diri sebagai tertuduh yang tidak paham apa kesalahannya.

Video-video sosok-sosok perempuan yang dipantulkan lewat projektor di atas kostum-kostum putih yang hadir sebagai hantu-hantu secara harfiah maupun lahiriah itu jadi nampak seperti hakim. Gentayangan dengan tepat mewujudkan metafora isu komunisme dengan hantu-hantu sosial yang sering disematkan kepada mereka yang langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan komunisme.  

Perempuan-perempuan “penghuni” kostum-kostum itu, kita tahu, bukan sembarang perempuan. Mereka adalah para mantan aktivis, pendukung maupun anggota Partai Komunis Indonesia yang selamat dari pembantain orde baru. Setelah selamat dari genosida komunis tahun 1965, mereka semua pernah di penjara di kamp-kamp konsentrasi yang tersebar di berbagai daerah  terkucil di Jawa antara lain Plantungan, Wirogunan, Ambarawa dan Bulu. Selama dalam tahanan, segala bentuk ekspresi dilarang. Satu-satunya jalan untuk berkomunikasi adalah dengan mendendang lagu-lagu tradisional.

Video-video perempuan yang sedang bernarasi yang digunakan dalam instalasi Gentayangan tersebut  adalah hasil dari pementasan teater berjudul Gejolak Makam Keramat, yang pernah dipentaskan di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada 13 Juli 2017 lalu.

Pertunjukan teater bergaya simakan –pembacaan dramatis—itu berasal dari adaptasi naskah Leng, karya Bambang Widoyo. Leng adalah naskah teater berbahasa Jawa tentang kepanikan para penduduk di sebuah desa di Jawa menghadapi kehancuran nilai-nilai budaya leluhur mereka akibat campur tangan industri kapitalis atas nama modernisasi dan pembangunan. Pertunjukan teater Gejolak Makam Keramat adalah hasil kolaborasi Agung Kurniawan dengan sutradara teater Irfanuddien Ghozali.

Keterlibatan para mantan korban dalam pentas teater yang kemudian diolah lagi menjadi karya instalasi Gentayangan menjadikan karya ini menonjol dari karya-karya bertema tragedi 65-66, pun karya-karya menyangkut tragedi kemanusiaan lainnya.

Selama ini, tragedi dan korban-korbannya seringkali hanya jadi objek.  Pendekatan Irfanuddien Ghozali dan Agung Kurniawan terhadap para wanita yang sering dianggap sebagai momok masyarakat dalam sebuah karya seni membuka kemungkinan baru tidak hanya bagi seniman namun juga pagi para penyintas tragedi.   

Karya ini menunjukkan kemungkinan baru bagi para penyintas, bahwa mereka bisa keluar dari limbo yang membuat mereka jadi korban pasif yang terkurung dalam stigma sosial politik. Pemberdayaan para korban dalam sebuah karya seni kontemporer dari seniman yang peka terhadap isu-isu sensitif dan kemudian bisa disaksikan di panggung seni internasional adalah peristiwa langka.

Agung Kurniawan bersama timnya menyediakan panggung dan fasilitas-fasilitas artistik, sengaja memberi naskah yang tidak ada hubunganya dengan tragedi yang pernah dialami para penyintas, memberikan kepercayaan penuh pada intuisi dan sensibilitas para perempuan-perempuan tersebut sebagai pemeran utama, menyediakan waktu yang dibutuhkan (kerjasama sudah mulai dilakukan sejak tahun 2014) untuk mematangkan karya tersebut hingga siap di depan publik. 

Dedikasi dari kedua belah pihak terpancar dari intensitas pembacaan naskah, intonasi suara, dan aura yang tercipta dari keseluruhan instalasi. Meskipun sosok asli perempuan-perempun itu hanya terwakili lewat video, terasa betul hubungan yang terjalin dan kepercayaan yang terbina antara seniman dan mereka yang terlibat.   Rekaman video, dengungan nada yang sayup mengiringi narasi naskah yang dibacakan membuat ruangan bawah tanah itu seperti dipenuhi hantu-hantu gentayangan. Instalasi multibentuk ini menggelitik rasa ingin tahu.

Menyaksikan kembali Gentayangan, seperti menyusuri  semua upaya, kerja keras dan waktu yang didedikasikan untuk bisa sampai pada karya matang yang terangkum akrab, mistis dan sakral dalam ruangan tersembunyi di Bozar tersebut. Evolusi dan metamorfosa Gentayangan menunjukkan dedikasi dan totalitas seniman yang makin jarang terlihat dari generasi seniman konseptual belakangan ini. ***


[1] Majestya, Nayla. Membayangkan dan Mengingat Masa Lalu: Reprsentasi Sejarah 65-66 Dalam Film-film Indonesia