Secercah Mataniari Musim Dingin di Den Haag

13 December 2017
Secercah Mataniari Musim Dingin di Den Haag


 Secercah Mataniari Musim Dingin di Den Haag

 
Den Haag bersama dengan (antara lain) Amsterdam, Rotterdam, dan Deventer merupakan salah satu tuan rumah Europalia 2017 di Belanda. Keriaan bisa ditemukan di sejumlah lokasi, salah satunya adalah Nieuwe Kerk, gereja yang sudah tidak asing dengan segala sesuatu yang berbau Indonesia. 
 
Nieuwe Kerk yang dibangun tahun 1656 ini adalah salah satu bangunan tertua di Den Haag dan diakui sebagai salah satu monumen UNESCO. Gereja mengadakan misa terakhir tahun 1969 dan setelah renovasi selama beberapa waktu, gereja dibuka kembali dan dialihfungsikan sebagai podium untuk pameran, pertunjukan musik, bahkan menjadi tempat sidang International People’s Tribunal 1965 (IPT) pada 2016 lalu. IPT adalah pengadilan kejahatan kemanusiaan dan genosida 1965-2015 di Indonesia yang dilakukan masyarakat sipil secara internasional.
 
Pada hari Sabtu tanggal 9 Desember 2017 yang dingin dan berhujan es, Nieuwe Kerk menjadi tuan rumah bagi konser Mataniari, kelompok musik asal Sumatra Utara yang memainkan musik khas Batak, yang dikenal dengan nama gondang Batak. Grup yang beranggotakan sembilan orang ini sudah sering tampil dan bekerja sama dengan para pemusik internasional, antara lain dengan Siero Chamber Orchestra of Asturias (OCAS) dari Spanyol. 
 
Sebelum acara utama dimulai, para penari dari grup Siro Nauli mengadakan workshop menari tortor, yang merupakan tarian khas Batak. Walaupun tanpa promosi yang memadai di luar informasi yang tertera di situs Europalia dan penyelenggara pementasan Zuiderstrandtheater, cukup banyak penonton yang datang. Acara utama dimulai tepat pukul 14.15 dengan penampilan Batak Trio yang memainkan lagu Alusi Au sebagai ritual ‘memanggil penonton’ seperti lazimnya dalam acara-acara masyarakat Batak. 
 
Lalu kelompok Mataniari yang tampil gagah mengenakan jaket kulit cokelat penahan dingin di bawah ulos mereka diperkenalkan oleh pimpinan artistik Tong Tong Festival, Arnaud Kokosky Deforchaux. Tong Tong Festival yang adalah festival tahunan budaya Indo-Belanda terbesar di dunia, ikut berperan dalam produksi pementasan kali ini.
 
Mataniari beranggotakan musisi tradisional Batak Toba dari tiga generasi. Salah satunya adalah Marsius Sitohang (Sang Raja Sulim) maestro musik Batak Toba penerima anugerah budaya kemendikbud tahun 2013. Dengan sulingnya, pria yang hanya sempat mengenyam pendidikan hingga kelas 2 Sekolah Dasar ini sudah melanglang buana dan menjadi dosen luar biasa di Universitas Sumatra Utara Fakultas Etnomusikologi.
 
Penampilan dibuka dengan gondang hasapi yang memainkan lagu tentang pahlawan perempuan. Gondang hasapi yang biasanya dimainkan di dalam rumah, mengedepankan melodi dan lagu-lagu yang cenderung syahdu. Irwansyah Harahap, anggota grup merangkap pimpinan artistik menjelaskan bahwa budaya Batak mengenal banyak pahlawan perempuan dan lagu-lagu yang mereka bawakan kali ini banyak bertemakan perempuan. Ini menandakan masyarakat Batak sangat menghormati kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.
 
Setelah itu kelompok memainkan gondang sabangunan yang biasa dimainkan di luar rumah. Lagu-lagu yang dimainkan dinamis, membangkitkan semangat dan ritmenya membuat orang tanpa sadar bergoyang. Bagian kedua ini diiringi dengan tarian. 
 
Penyanyi dan pimpinan kelompok Mataniari, Rithaony Hutajulu menjelaskan bahwa kedua jenis gondang tersebut merupakan bagian penting ritual dalam upacara dan pesta adat masyarakat Batak. Tidak ada upacara yang tidak menggunakan musik. Musik dianggap sebagai mediator bagi seluruh pihak yang terlibat dalam acara. “Selain itu, di era sebelum agama Kristen masuk ke tanah Batak, gondang adalah bentuk komunikasi antara manusia dan pencipta,” lanjut Rithaony.
 
Penampilan Mataniari dilanjutkan dengan memainkan zonra ketiga yaitu uning-uningan opera Batak yang murni merupakan hiburan. Tradisi pertunjukan seni Batak Toba yang berangkat dari elemen-elemen gondang tersebut mulai terbentuk di tahun 1920-an. Hal ini berasal dari kebutuhan baru untuk menampilkan kesenian orang Batak Toba setelah adanya kontak intens dengan dunia luar, seperti orang Melayu, Jawa, India, dan sebagainya. 
 
Di zonra ketiga ini Mataniari memainkan antara lain lagu melankolis yang bercerita tentang seorang perempuan yang belum menikah. Menarik untuk diketahui, sesuai penjelasan Rithaony, menikah adalah satu hal yang sangat penting bagi masyarakat Batak. Seseorang yang belum menikah, tetap akan dianggap sebagai anak-anak (naposo), berapapun umurnya. Ini yang membedakan peran seseorang dalam acara dan upacara adat Batak.
 
Sepanjang penampilan terjadi interaksi unik antara penonton dan para pemusik. Terutama para penonton yang memang aslinya berasal dari Sumatra Utara, karena mereka sangat mengenal kebiasaan-kebiasaan yang berlaku dalam penampilan musik khas Batak.
 
Satu jam lebih sudah berlalu, tapi penonton belum puas. Mereka minta Mataniari untuk lanjut memainkan lagu-lagu tambahan. Permintaan encore dituruti dan Mataniari mengajak penonton untuk turut ‘manortor’ bersama di panggung. Tanpa diminta dua kali, sejumlah penonton termasuk pembawa acara Arnaud Deforchaux ikut manortor. Hadirin terlihat puas dan senang bisa benar-benar menjadi bagian dari pementasan tersebut. 
 
“Sepertinya Mataniari, seperti arti namanya, memang membawa matahari ke Den Haag. Hari dingin dan salju seperti hari ini jadi terasa hangat dengan musik mereka,” demikian Sanne van der Does manajer produksi Zuiderstrandtheater ketika ditanya komentarnya.
 
Kelompok musik ini juga tampil di Brussels tanggal 10 Desember 2017. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan ke Spanyol untuk menggelar konser atas undangan Siero Chamber Orchestra.