Enam Minggu Merasakan Indonesia di Deventer Belanda

13 December 2017
 Enam Minggu Merasakan Indonesia di Deventer Belanda


 Enam Minggu Merasakan Indonesia di Deventer Belanda 

 
Artikel: Rina Sitorus
Foto: Rina Sitorus
 
Salah satu kota tertua Belanda, Deventer sudah sejak lama menjalin hubungan baik dengan Indonesia. Hal ini bisa dirasakan tidak hanya dari arsitektur gedung-gedung di kota atau restoran-restoran yang menyajikan masakan Indonesia, tapi juga dari kehadiran kelompok-kelompok masyarakat seperti kelompok Maluku, Papua, Indo dan tentu saja mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang kuliah di Saxion Universiteit. Dengan festival Europalia 2017 yang berfokus pada Indonesia, hal ini bisa lebih dirasakan dan dinikmati tidak hanya oleh masyarakat Deventer saja. 
 
Kota yang akan berusia 1250 tahun di tahun 2018 ini tidak main-main dalam memboyong perhelatan Europalia 2017 ke rumah mereka. Sekitar 100 acara mulai dari pameran foto sampai seminar, Pasar Kecil sampai konser musik, diselenggarakan hampir setiap hari selama enam minggu. Dari dunia musik festival dimeriahkan antara lain oleh kelompok perkusi beken Svara Samsara, Jogja Hip Hop Foundation, Kande yang menggabungkan musik tradisional Aceh dengan rock, serta Saluang Dendang dan Salawat Dulang dari Sumatra Barat.
 
Kemeriahan ini bisa dirasakan pada penampilan Jogja Hip Hop Foundation dan DJ Bayu pada hari Kamis 8 Desember 2019 di Burgerweeshuis, salah satu podium musik terbesar di Deventer. Gedung bergaya neoklasik yang dibangun tahun 1859 tersebut sudah sering menjadi tempat konser band-band tenar internasional, antara lain Sepultura dan Soundgarden. 
 
Acara malam itu dihadiri sekitar seratusan anak muda dari pelbagai kalangan, tidak hanya para mahasiswa Indonesia dan Belanda, tapi juga sejumlah anak muda Turki. Acara juga dihadiri walikota Deventer Andries Heidema dan Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda I Gusti Agung Wesaka Puja.
 
Ketika diwawancarai, walikota Heidema mengatakan Deventer yang berpopulasi sekitar 100 ribu jiwa tersebut dikenal sebagai kota yang berorientasi internasional. “Kota kami banyak berhubungan dengan kota-kota lain di luar Belanda, terutama dalam hal perdagangan. Ketika kami tahu bahwa Indonesia jadi fokus Europalia tahun ini, kami tidak ragu-ragu mengambil kesempatan menjadi salah satu tuan rumah.” 
 
Ini berarti Deventer bersanding dengan antara lain Paris, London dan Berlin menjadi tuan rumah. “Sebuah kehormatan bagi kota-kota tersebut untuk bersanding dengan kota kami,” kata Heidema sambil tertawa. “Ini menunjukkan bahwa tidak cuma kota metropolitan yang bisa ikut ambil bagian, yang penting kota tersebut berorientasi internasional. Hal ini juga membuktikan bahwa tidak hanya kota metropolitan yang bisa berorientasi internasional.” 
 
Penyelenggaraan seluruh  kegiatan Deventer pada festival Europalia kali ini disponsori oleh pemerintah kotamadya Deventer, yayasan dana budaya Wesselings - Van Breemen, dan yayasan budaya Deventer Cultuur Club. Selain itu juga oleh perusahaan-perusahaan besar seperti perusahaan konsultan dan teknik  Witteveen + Bos yang aktif di banyak proyek manajemen air di Indonesia, antara lain merancang master plan proyek Tanggul Laut dan reklamasi 17 pulau buatan di Teluk Jakarta. 
 
Walikota Heidema mengatakan tidak mengukur kesuksesan festival dengan angka atau peluang bisnis. “Saya senang dengan kontak-kontak baru yang terjalin. Saya sangat bangga akan 200 sukarelawan yang terlibat penuh. Mereka ini datang berbagai kalangan, tidak hanya orang muda atau orang Indonesia saja, misalnya. Banyak hal fantastis yang bisa terjadi dari perhelatan besar seperti ini, kita tidak bisa meramalkan sebelumnya dan memang tujuan kami menyelenggarakan ini bukan demi keuntungan bisnis atau semacamnya.” 
 
Sementara Dubes RI yang akrab disapa Puja terlihat sangat menikmati penampilan band hiphop dari Yogyakarta tersebut. “Saya lama di Yogya, pernah belajar di Yogya tentu suasana hati Yogya itu merasuk ke jiwa saya juga dengan mendengarkan mereka ini.” demikian Puja.
 
Ketika diminta komentarnya tentang Europalia, Puja mengatakan, ”Kami punya harapan besar. Europalia ini cukup panjang, empat bulan sampai akhir Januari. Kita harapkan tidak berhenti sampai di situ. Ada cultural impact, bahkan kalau bisa ada cultural shocknya juga yang membawa kenangan tersendiri bagi masyarakat Belanda dan memicu untuk lebih kenal Indonesia.”
 
Dubes Puja melanjutkan, “Sampai akhir tahun 2017 sudah ada 200 ribu turis Belanda ke Indonesia. Target 2019 adalah 20 juta turis, nah dari Belanda kita ingin menyumbang 300 ribu. Ini bukan sekadar jumlah saja. Ada tiga hal bagus dari turis Belanda, pertama, sejak lima tahun terakhir jumlahnya meningkat, kedua, mereka tinggal lebih lama dari Indonesia yaitu rata-rata 15 hari, ketiga mereka spend more money di Indonesia. Kita ingin menarik para repeaters untuk datang ke Indonesia. Mereka ini yang datang untuk kedua kali, ketiga kali, dan bisa tinggal lebih lama bahkan sampai 6 bulan.”
 
Jogja Hip Hop Foundation tampil membawakan musik rap dengan lirik bahasa Jawa. Mereka tampil sekitar satu jam dan membuat semua penonton berjoget dan bernyanyi bersama. “Buat kami itu yang penting energinya bisa sampai ke penonton. Kita senang sekali malam ini, karena kita bisa merasakan itu.” demikian Marzuki Mohamad aka Kill the DJ, pentolan grup. Acara ditutup dengan penampilan DJ Bayu Aditya yang meski baru tiba di Belanda setelah terbang 22 jam dari Melbourne, Australia, tetap semangat menemani kerumunan hingga acara berakhir.